| Cover versi terbitan Indonesia |
Sabtu, 20 April 2013
Minggu, 09 Desember 2012
KLIK : 10 Ide 1 Cerita
Lemparkan kembali semuanya
Gee"
Kisah Klik berfokus kepada George Keane Henschler atau Gee. Bagi Maggie, Gee adalah sosok kakek yang selalu dia nantikan kehadirannya. Setiap kali Gee datang dia selalu membawakan beragam cerita untuknya dan juga Jason, kakaknya. Namun, Gee meninggal dunia, dan dia mewariskan sebuah kotak berisi tujuh kerang untuk Maggie, dan foto-foto untuk Jason.
Awalnya mereka berdua mengira benda-benda itu tidak ada artinya sama sekali, terutama bagi Maggie yang menganggap jika dia membuka kotak itu, maka kenangannya bersama Gee akan menjadi yang terakhir.Akan tetapi, Gee mewariskan lebih dari sekedar kerang untuk Maggie, dan lebih dari sekedar foto-foto orang terkenal untuk Jason. Semua itu membawa mereka ke dalam perjalanan penuh kejutan. Menyeberangi lautan, melintasi benua, menemukan jati diri, dan juga merekam jejak seorang Gee yang selama ini mereka kenal.
Novel "KLIK" ditulis oleh sepuluh orang penulis yang namanya tentu tidak asing di telinga anda. Pada awalnya saya tertarik karena melihat nama Eoin Colfer (pengarang Artemis Fowl) termasuk ke dalam salah satu dari penulis itu. Walaupun setiap bab ditulis oleh orang yang berbeda, namun seperti yang saya singgung sebelumnya, setiap cerita tertuju kepada sosok Gee. Siapakah Gee? Seperti apa dia? Bagaimana kehidupannya? Apa yang terjadi padanya? Apa pengaruh Gee bagi mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul setiap saya membalik halaman buku ini, dan sedikit demi sedikit terjawab layaknya mengikuti aliran air, layaknya sebuah novel yang ditulis oleh satu orang saja.
Mereka merangkaikan cerita dengan apik, dengan alur maju mundur tanpa membuat pembaca kesulitan mencerna inti ceritanya. Di antara sepuluh cerita ini, mungkin bab berjudul "Min" yang menggelitik hati saya. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Terlepas dari itu semua, "KLIK" menyampaikan pesan bahwa perjalanan itu tidak akan pernah berakhir, dan merupakan warisan yang abadi.
Judul Buku :KLIK
Pengarang : Eoin Cofler, Linda Sue Park, Ruth Ozeki, Nick Hornby, Tim Wyne-Jones, David Almond, Gregory Maguire, Deborah Ellis, Margo Lanagan, Roddy Doyle.
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2012
Tebal : 228 halaman
Selasa, 17 Juli 2012
Minggu, 01 Juli 2012
Dissapointed Effect
Final! Dan ketika tulisan ini diturunkan, Italia jauh tertinggal 2-0 dari Spanyol berkat gol Silva, dan Alba. Kecewa! Bagaimana tidak, karena Italia mengalahkan tim favorit saya Jerman di semifinal kemarin. Melihat permainan mereka saat itu (yang jauh lebih baik dari Jerman) saya yakin mereka akan membuktikan sesuatu di Final. Nyatanya, jauh dari yang saya harapkan.
Sebelumnya saya memposting tulisan di akhir pertandingan German-Italia Jumat kemarin. Bahwa jika Italia tidak bermain seperti saat ini (ketika semifinal) maka mereka tidak akan mampu mengalahkan tiki taka Spanyol. Dan prediksi saya tidak melenceng jauh, dan saya juga tidak salah jika mengatakan (mungkin) hanya permainan der panzer yang mampu mengimbanginya. Terlihat ketika semifinal Champion League antara Bayern Muenchen vs Real Madrid, Der Bavarian mampu menahan laju el Real sehingga laga disudahi dengan adu pinalti.
Jadi apa yang salah?
Bukan berarti Italia menyingkirkan German dengan skandalnya, lho. Tapi saya melihat ketika semifinal Italia beruntung karena faktor mental. Sebelum pertandingan berlangsung, media gencar menuliskan "kutukan" dominasi Italia atas Jerman, dan itu berpengaruh terhadap performa Lahm dan kawan-kawan di lapangan. Gugup menghadapi semifinal, dengan predikat juara favorit, dan menghadapi Italia yang bermental lebih baik, tidak ada beban. Peluang yang didapat pun tidak mampu dikonversi menjadi gol
Dan setelah ini saya melihat dua gol sudah menjebol gawang Buffon. Selamat Spanyol, mempertahankan gelar dan berturut-turut meraih trophy. Viel Gute.
Posted via BlogPost
Sebelumnya saya memposting tulisan di akhir pertandingan German-Italia Jumat kemarin. Bahwa jika Italia tidak bermain seperti saat ini (ketika semifinal) maka mereka tidak akan mampu mengalahkan tiki taka Spanyol. Dan prediksi saya tidak melenceng jauh, dan saya juga tidak salah jika mengatakan (mungkin) hanya permainan der panzer yang mampu mengimbanginya. Terlihat ketika semifinal Champion League antara Bayern Muenchen vs Real Madrid, Der Bavarian mampu menahan laju el Real sehingga laga disudahi dengan adu pinalti.
Jadi apa yang salah?
Bukan berarti Italia menyingkirkan German dengan skandalnya, lho. Tapi saya melihat ketika semifinal Italia beruntung karena faktor mental. Sebelum pertandingan berlangsung, media gencar menuliskan "kutukan" dominasi Italia atas Jerman, dan itu berpengaruh terhadap performa Lahm dan kawan-kawan di lapangan. Gugup menghadapi semifinal, dengan predikat juara favorit, dan menghadapi Italia yang bermental lebih baik, tidak ada beban. Peluang yang didapat pun tidak mampu dikonversi menjadi gol
Dan setelah ini saya melihat dua gol sudah menjebol gawang Buffon. Selamat Spanyol, mempertahankan gelar dan berturut-turut meraih trophy. Viel Gute.
Posted via BlogPost
Kamis, 28 Juni 2012
I Cry For You Germany
German belum bisa mematahkan rekor buruk atas Italia. Dengan ini laju mereka terhenti di semifinal, setelah kalah 1-2 malam ini. Sangat menyakitkan, terutama permainan German yang sangat kompetitif selama Euro 2012 dan mengantongi 15 kemenangan beruntun.
Blunder Taktik Herr Loew
Pergerakan Oezil yang dimatikan memang sudah terbaca oleh Loew, tapi dia bertaruh pada lini belakang. Untuk membantu lini tengah, Lahm dan Boateng naik turun meninggalkan posnya. Meninggalkan Badsstuber dan Hummels di belakang. Masukya Kroos (yang membuat saya terhenyak) sebagai kamuflase tidak berhasil menyeimbangkan lini tengah dan penyerang German. Apalagi Podolski tidak bermain apik malam ini.
Hal ini berbeda sekali saat German melawan Portugal, dimana mereka berdua sangat disiplin dan defensif. Alhasil dua kali Ballotelli merobek jala Neuer tanpa bisa diantisipasi oleh Batsuber ataupun Hummels. Dari sini kita bisa melihat bahwa kualitas Lahm memang tidak dapat diganggu gugat pada laga krusial.
Seandainya Loew memasukan Muller sebagai penheimbang penetrasi sayap kanan, hasilnya mungkin lain. Karena ketika Boateng mencoba mengantisipasi serangan kanan, dia cenderung mengoper bola ke arah kiri, sedangkan karakter Muller adalah membawa bola maju dan melakukan serangan kanan. Sangat cocok dengan Gomez, beberapa kali dua pemain ini bisa melakukan gaya tik tak ala German. Terbukti saat Boateng ditarik dan Muller masuk, tempo permainan menjadi milik German. Sayangnya hal ini sangat terlambat. Saya juga melihat Reuz bermain sangat individualis, dia belum menyatu dengan tim, sehingga banyak peluang emas tersia-siakan.
Di sisi lain, permainan Italia malam ini sangat bagus. Terutama barisan pertahanan yang sangat cepat memback up ketika bola di lapangan tengah berhasil direbut pemain German. Ini adalah kali kedelapan German kalah di laga kompetitif lawan Italia. Bukan karena faktor sejarah, namun pemain muda German masih belum grow up, dengan adanya laga ini diharapkan (saya lebih berharap tentunya) pengalaman laga internasional akan berpengaruh pada penempaan mental mereka. Masih ada dua tahun lagi untuk Piala Dunia 2014, dan die Nationalmannschaft bisa berbenah memperbaiki skill dan kemampuan tiap individunya.
Prediksi Final
Dengan gaya tik tak, Spanyol tampaknya akan memenangkan laga Final dengan skor 2-1, jka Italia tidak segera mengantisipasi operan-operan pendek dan cepat mereka dengan baik. Karena saya merasa hanya German yang sejauh ini meredam gaya permainan Spanyol yang seperti itu. Tapi Italia bukannya tanpa peluang, asalkan mereka bisa mengatur ritme permainan, dan membawa Spanyol ke dalam pergerakan mereka, kemungkinn kedudukan akan berubah.
Sangat sedih melihat para pemain muda German tidak berada di puncak Euro 2012. Dan saat ini saya masih mencari tisu untuk menghapus sisa-sisa air mata (i'm really serious). Tapi inilah sepakbola, segala sesuatu kadang tidak sesuai keinginan. Allez die Nationalmannschaft, danke schön für das Spiel. Liebe große und weiter so.
Posted via BlogPost
Blunder Taktik Herr Loew
Pergerakan Oezil yang dimatikan memang sudah terbaca oleh Loew, tapi dia bertaruh pada lini belakang. Untuk membantu lini tengah, Lahm dan Boateng naik turun meninggalkan posnya. Meninggalkan Badsstuber dan Hummels di belakang. Masukya Kroos (yang membuat saya terhenyak) sebagai kamuflase tidak berhasil menyeimbangkan lini tengah dan penyerang German. Apalagi Podolski tidak bermain apik malam ini.
Hal ini berbeda sekali saat German melawan Portugal, dimana mereka berdua sangat disiplin dan defensif. Alhasil dua kali Ballotelli merobek jala Neuer tanpa bisa diantisipasi oleh Batsuber ataupun Hummels. Dari sini kita bisa melihat bahwa kualitas Lahm memang tidak dapat diganggu gugat pada laga krusial.
Seandainya Loew memasukan Muller sebagai penheimbang penetrasi sayap kanan, hasilnya mungkin lain. Karena ketika Boateng mencoba mengantisipasi serangan kanan, dia cenderung mengoper bola ke arah kiri, sedangkan karakter Muller adalah membawa bola maju dan melakukan serangan kanan. Sangat cocok dengan Gomez, beberapa kali dua pemain ini bisa melakukan gaya tik tak ala German. Terbukti saat Boateng ditarik dan Muller masuk, tempo permainan menjadi milik German. Sayangnya hal ini sangat terlambat. Saya juga melihat Reuz bermain sangat individualis, dia belum menyatu dengan tim, sehingga banyak peluang emas tersia-siakan.
Di sisi lain, permainan Italia malam ini sangat bagus. Terutama barisan pertahanan yang sangat cepat memback up ketika bola di lapangan tengah berhasil direbut pemain German. Ini adalah kali kedelapan German kalah di laga kompetitif lawan Italia. Bukan karena faktor sejarah, namun pemain muda German masih belum grow up, dengan adanya laga ini diharapkan (saya lebih berharap tentunya) pengalaman laga internasional akan berpengaruh pada penempaan mental mereka. Masih ada dua tahun lagi untuk Piala Dunia 2014, dan die Nationalmannschaft bisa berbenah memperbaiki skill dan kemampuan tiap individunya.
Prediksi Final
Dengan gaya tik tak, Spanyol tampaknya akan memenangkan laga Final dengan skor 2-1, jka Italia tidak segera mengantisipasi operan-operan pendek dan cepat mereka dengan baik. Karena saya merasa hanya German yang sejauh ini meredam gaya permainan Spanyol yang seperti itu. Tapi Italia bukannya tanpa peluang, asalkan mereka bisa mengatur ritme permainan, dan membawa Spanyol ke dalam pergerakan mereka, kemungkinn kedudukan akan berubah.
Sangat sedih melihat para pemain muda German tidak berada di puncak Euro 2012. Dan saat ini saya masih mencari tisu untuk menghapus sisa-sisa air mata (i'm really serious). Tapi inilah sepakbola, segala sesuatu kadang tidak sesuai keinginan. Allez die Nationalmannschaft, danke schön für das Spiel. Liebe große und weiter so.
Posted via BlogPost
Rabu, 27 Juni 2012
Spanyol: Mematahkan Semua Mitos
Semifinal pertama antara Portugal kontra Spanyol telah usai dengan kemenangan untuk Spanyol, walaupun disudahi oleh adu penalti. Sebenarnya banyak peluang emas yang tercipta sepanjang 90 menit waktu normal, maupun 30 menit tambahan. Sayangnya (atau bisa saya bilang sialnya) kesamaan permainan antar tim membuat peluang itu dapat dimentahkan begitu saja.
Dengan ini Spanyol melangkah ke final, dan mematahkan mitos bahwa pemenang EURO sebelumnya tidak akan bisa menembus final di turnamen selanjutnya. Ada beberapa fak or menarik dari pertandingan dini hari tadi, diantaranya seorang CR7 tidak mampu untuk membuktikan kualitas dirinya. Saya tidak mengatakan bahwa permainannya buruk, malah sebaliknya. Beberapa kali saya lihat tendangannya sangat berbahaya bagi gawang Iker Cassilas. Insting dan pergerakannya yang tajam memang harus diwaspadai oleh tim manapun, olehkarena itu tepat jika German mengunci pergerakannya di awal fase grup. Bersaing memperebutkan titel ballon d'or dengan rivalnya Lionel Messi, membuat CR7 bermain imprensif di turnamen ini, tercatat dia telah mengemasi 3 gol di gelaran EURO 2012. Hanya saja, faktor tiang gawang menjadi temannya kali ini.
Gambaran el classico dalam balutan kostum timnas memang terbukti. Alur permainan, tempo, operan silang kiri kanan mengingatkan saya pada permainan Real Madrid dan Barcelona. Strategi "false nine" pun bukannya tanpa cacat. Dengan dimainkannya tiga midfield yang juga berfungsi sebagai striker, Spanyol tidak bisa menghasilkan rekor sempurna atau kemenangan telak kala menghadapi tim besar. Artinya pergerakan Iniesta-Xabi-Xavi memang kompak, tapi dengan itu peran mereka akan tumpang tindih ketika masuk pertahanan lawan. Peran Torres pun yang semestinya bisa bersinar seakan-akan tidak dibutuhkan.
Dari kubu Portugal, ketergantungan terhadap Ronaldo harus segera disudahi. Mereka masih punya Pepe dan Nani, serta Verela yang diawal fase grup bermain bagus. Toh tendangan penalti Ronaldo membuktikan bahwa dia hanya pesepakbola biasa, yang bisa membuat kesalahan. Sekali lagi adu penalti seperti melempar koin antara dua sisi, keberuntungan dan kesialan.
Review: German Italia
Melihat pertandingan hari ini, kedua timnas mempunyai tambahan motivasi. Masuknya Spanyol yang mematahkan semua mitos sepakbola ke final, menjadi pembuktian bahwa pertandingan selalu ada selama 90 menit, dan selama itu apapun bisa terjadi.
Pulihnya Schweinsteinger dari cedera membangkitkan semangat tim, betapa tidak, Schweini sudah menjadi roh bagi die mannschaft. Kehadiran Schweini bisa membuat barisan pertahanan German tenang, karena memudahkan Kheidira atau Lahm bergerak mengubah-ubah posisi. Saya prediksikan bahwa lima belas menit pertama kedua tim akan bermain Wait and See. Tapi ketika salah satunya dapat menguasai pergerakan bola, maka kemenangan sudah pasti di tangan.
Allez, Die Nationalmannschafft
Posted via BlogPost
Dengan ini Spanyol melangkah ke final, dan mematahkan mitos bahwa pemenang EURO sebelumnya tidak akan bisa menembus final di turnamen selanjutnya. Ada beberapa fak or menarik dari pertandingan dini hari tadi, diantaranya seorang CR7 tidak mampu untuk membuktikan kualitas dirinya. Saya tidak mengatakan bahwa permainannya buruk, malah sebaliknya. Beberapa kali saya lihat tendangannya sangat berbahaya bagi gawang Iker Cassilas. Insting dan pergerakannya yang tajam memang harus diwaspadai oleh tim manapun, olehkarena itu tepat jika German mengunci pergerakannya di awal fase grup. Bersaing memperebutkan titel ballon d'or dengan rivalnya Lionel Messi, membuat CR7 bermain imprensif di turnamen ini, tercatat dia telah mengemasi 3 gol di gelaran EURO 2012. Hanya saja, faktor tiang gawang menjadi temannya kali ini.
Gambaran el classico dalam balutan kostum timnas memang terbukti. Alur permainan, tempo, operan silang kiri kanan mengingatkan saya pada permainan Real Madrid dan Barcelona. Strategi "false nine" pun bukannya tanpa cacat. Dengan dimainkannya tiga midfield yang juga berfungsi sebagai striker, Spanyol tidak bisa menghasilkan rekor sempurna atau kemenangan telak kala menghadapi tim besar. Artinya pergerakan Iniesta-Xabi-Xavi memang kompak, tapi dengan itu peran mereka akan tumpang tindih ketika masuk pertahanan lawan. Peran Torres pun yang semestinya bisa bersinar seakan-akan tidak dibutuhkan.
Dari kubu Portugal, ketergantungan terhadap Ronaldo harus segera disudahi. Mereka masih punya Pepe dan Nani, serta Verela yang diawal fase grup bermain bagus. Toh tendangan penalti Ronaldo membuktikan bahwa dia hanya pesepakbola biasa, yang bisa membuat kesalahan. Sekali lagi adu penalti seperti melempar koin antara dua sisi, keberuntungan dan kesialan.
Review: German Italia
Melihat pertandingan hari ini, kedua timnas mempunyai tambahan motivasi. Masuknya Spanyol yang mematahkan semua mitos sepakbola ke final, menjadi pembuktian bahwa pertandingan selalu ada selama 90 menit, dan selama itu apapun bisa terjadi.
Pulihnya Schweinsteinger dari cedera membangkitkan semangat tim, betapa tidak, Schweini sudah menjadi roh bagi die mannschaft. Kehadiran Schweini bisa membuat barisan pertahanan German tenang, karena memudahkan Kheidira atau Lahm bergerak mengubah-ubah posisi. Saya prediksikan bahwa lima belas menit pertama kedua tim akan bermain Wait and See. Tapi ketika salah satunya dapat menguasai pergerakan bola, maka kemenangan sudah pasti di tangan.
Allez, Die Nationalmannschafft
Posted via BlogPost
Selasa, 26 Juni 2012
Halbfinale Euro 2012: Saatnya Menguji Mental Pemain Muda
Saatnya semifinal EURO 2012, dibuka dengan duel "clasico" antara Portugal melawan Spanyol. Tapi kesampingkan hal itu, karena sejujurnya saya tidak mendukung keduanya. Bukan tanpa alasan, lebih tepatnya bingung, kedua tim mempunyai karakter yang sama. Permainan bola dengan operan-operan kiri kanan, percis sekali pertandingan antara Real Madrid dan Barcelona. Apalagi kedua tim dihuni oleh punggawa kedua tim besar itu. Walaupun di atas kertas kali ini Spanyol masih diunggulkan.
Menariknya adalah semifinal kedua yang mempertemukan German dan Italia di Warsawa Kamis (Jumat dini hari) mendatang. Pertandingan ini saya lihat masih hitam putih.
Der Panzer Vs Gli Azzuri
Secara statistik sejarah pertemuan kedua tim, Italia masih bisa berbangga diri karena memgang rekor lebih baik jika berhadapan dengan German, baik di tingkat Eropa atau Piala Dunia. Kejadian yang masih membekas tentulah disaat Piala Dunia 2006, German harus tersingkir akibat dua gol yang dicetak Italia pada saat laga menjelang akhir. Tetapi German saat ini bukanlah German 6 tahun yang lalu.
Dengan laga di Grup Neraka menghadapi Portugal, Denmark, dan Belanda (yang sebenarnya jauh lebih diunggulkan), German menyudahi pertarungan dengan nilai sempurna. Disusul mematahkan mantan juara Euro'04 Yunani dengan skor cukup meyakinkan 4-2. Mungkin berbeda dengan Italia yang tampaknya sangat bermain aman, imbang melawan Spanyol dan Kroasia, lalu kemenangan melawan Irlandia yang sebenarnya mempunyai kualitas di bawah mereka. Ujian sesungguhnya ketika melawan Inggris, yang sayangnya bermain sangat buruk di perempat final, sehingga laga harus disudahi dengan adu tos-tosan. Italia melenggang dengan skor 0(4) - 0(2)
Meninggalkan gaya bertahan catenacio, dan berinisiatif menyerang, Italia memang tampak berbeda dengan beberapa waktu kebelakang. Cesare Predelli mungkin sudah membawa perubahan bagi Azzuri dengan memainkan si bengal Ballotelli, ditambah peran Pirlo dan Buffon sebagai pemain senior menjaga keseimbangan di antara skuad. Tidak bisa disanggah, kehadiran Pirlo seperti spirit bagi roh Azzuri. Mengingatkan saya pada Paolo Maldini sebelum dia pensiun. Hal ini yang harus diwaspadai German.
Sementara Der Panzer bukannya tidak berbahaya. Menjadi tim dengan produktivitas paling bagus di EURO dengan torehan 9 gol, membuktikan betapa efektifnya mesin gol Der Panzer. Mario Gomez ataupun Miroslav Klose selalu berada di saat yang tepat ketika rekannya mengirimkan umpan untuk dilesakan. Belum lagi di lini tengah antara Oezil, Muller, Schweinsteiger, dan Podolski sebagai penyokong barisan depan Die Mannschafft. Jangan lupakan Sami Kheidira, walaupun perannya membantu pertahanan, bersama dengan kapten Philip Lahm atau bek Jerome Boateng, mereka bertiga seringkali menusuk pertahanan lawan jika lini tengah dijaga dengan ketat. Barisan pertahanan tentunya dijaga oleh Badstubber dan Hummels, sebelum berakhir pada Neuer. Kordinasi antar lini German bisa dikatakan sempurna, ini yang menjadikan kekuatan mereka di turnamen kli ini. Sedikit catatan harus ditambahkan bagi pertahanan German, karena beberapa gol yang berhasil dilesakan lawan terjadi akibat lengahnya barisan pertahanan mengantisipasi counter attack lawan.
Pertandingan saya rasa akan seru di bagian sayap, karena German maupun Italia pasti akan memainkan pola menyerang. German akan mengunci pergerakan Pirlo, begitupun sebaliknya Italia tidak akan membiarkan Oezil mendapatkan bola dengan leluasa. Dari faktor ketenangan juga berpengaruh dalam duel mendatang. Faktor usia muda tidak akan menjadi hambatan bagi pasukan German, itulah mengapa dengan usia rata-rata 20 tahun, Joachim Loew langsung menstarter mereka dengan turnamen besar. Tidak tanggung-tanggung Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Hasilnya tidak bagus, tapi bukan berarti tidak baik. Peringkat ketiga dengan susunan pemain muda yang nyaris tidak ada pengalaman dalam ajang sebesar itu.
Intinya dalam pertandingan semifinal nanti antara German dan Italia, lupakan soal sejarah. Taktik akan berpengaruh, selain itu ketenangan dan kedewasaan di lapangan akan menjadi faktor vital bagi kemenangan. Tentunya saya berharap German akan lolos ke final, memang tidak akan mudah karena benteng Italia sangat kokoh, tapi bukan tidak mungkin.
weiter so gegen Italien, die Nationalmannschaft!!
Posted via BlogPost
Menariknya adalah semifinal kedua yang mempertemukan German dan Italia di Warsawa Kamis (Jumat dini hari) mendatang. Pertandingan ini saya lihat masih hitam putih.
Der Panzer Vs Gli Azzuri
Secara statistik sejarah pertemuan kedua tim, Italia masih bisa berbangga diri karena memgang rekor lebih baik jika berhadapan dengan German, baik di tingkat Eropa atau Piala Dunia. Kejadian yang masih membekas tentulah disaat Piala Dunia 2006, German harus tersingkir akibat dua gol yang dicetak Italia pada saat laga menjelang akhir. Tetapi German saat ini bukanlah German 6 tahun yang lalu.
Dengan laga di Grup Neraka menghadapi Portugal, Denmark, dan Belanda (yang sebenarnya jauh lebih diunggulkan), German menyudahi pertarungan dengan nilai sempurna. Disusul mematahkan mantan juara Euro'04 Yunani dengan skor cukup meyakinkan 4-2. Mungkin berbeda dengan Italia yang tampaknya sangat bermain aman, imbang melawan Spanyol dan Kroasia, lalu kemenangan melawan Irlandia yang sebenarnya mempunyai kualitas di bawah mereka. Ujian sesungguhnya ketika melawan Inggris, yang sayangnya bermain sangat buruk di perempat final, sehingga laga harus disudahi dengan adu tos-tosan. Italia melenggang dengan skor 0(4) - 0(2)
Meninggalkan gaya bertahan catenacio, dan berinisiatif menyerang, Italia memang tampak berbeda dengan beberapa waktu kebelakang. Cesare Predelli mungkin sudah membawa perubahan bagi Azzuri dengan memainkan si bengal Ballotelli, ditambah peran Pirlo dan Buffon sebagai pemain senior menjaga keseimbangan di antara skuad. Tidak bisa disanggah, kehadiran Pirlo seperti spirit bagi roh Azzuri. Mengingatkan saya pada Paolo Maldini sebelum dia pensiun. Hal ini yang harus diwaspadai German.
Sementara Der Panzer bukannya tidak berbahaya. Menjadi tim dengan produktivitas paling bagus di EURO dengan torehan 9 gol, membuktikan betapa efektifnya mesin gol Der Panzer. Mario Gomez ataupun Miroslav Klose selalu berada di saat yang tepat ketika rekannya mengirimkan umpan untuk dilesakan. Belum lagi di lini tengah antara Oezil, Muller, Schweinsteiger, dan Podolski sebagai penyokong barisan depan Die Mannschafft. Jangan lupakan Sami Kheidira, walaupun perannya membantu pertahanan, bersama dengan kapten Philip Lahm atau bek Jerome Boateng, mereka bertiga seringkali menusuk pertahanan lawan jika lini tengah dijaga dengan ketat. Barisan pertahanan tentunya dijaga oleh Badstubber dan Hummels, sebelum berakhir pada Neuer. Kordinasi antar lini German bisa dikatakan sempurna, ini yang menjadikan kekuatan mereka di turnamen kli ini. Sedikit catatan harus ditambahkan bagi pertahanan German, karena beberapa gol yang berhasil dilesakan lawan terjadi akibat lengahnya barisan pertahanan mengantisipasi counter attack lawan.
Pertandingan saya rasa akan seru di bagian sayap, karena German maupun Italia pasti akan memainkan pola menyerang. German akan mengunci pergerakan Pirlo, begitupun sebaliknya Italia tidak akan membiarkan Oezil mendapatkan bola dengan leluasa. Dari faktor ketenangan juga berpengaruh dalam duel mendatang. Faktor usia muda tidak akan menjadi hambatan bagi pasukan German, itulah mengapa dengan usia rata-rata 20 tahun, Joachim Loew langsung menstarter mereka dengan turnamen besar. Tidak tanggung-tanggung Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Hasilnya tidak bagus, tapi bukan berarti tidak baik. Peringkat ketiga dengan susunan pemain muda yang nyaris tidak ada pengalaman dalam ajang sebesar itu.
Intinya dalam pertandingan semifinal nanti antara German dan Italia, lupakan soal sejarah. Taktik akan berpengaruh, selain itu ketenangan dan kedewasaan di lapangan akan menjadi faktor vital bagi kemenangan. Tentunya saya berharap German akan lolos ke final, memang tidak akan mudah karena benteng Italia sangat kokoh, tapi bukan tidak mungkin.
weiter so gegen Italien, die Nationalmannschaft!!
Posted via BlogPost
Langganan:
Postingan (Atom)
