Rabu, 30 Maret 2016

Bab 4-3

Terpisah sejauh 550 kilometer dari tempat tinggalnya, Danu sedikit bingung bagaimana  mereka berdua dapat duduk di kedai kopi di kawasan perkantoran elit Sudirman saat ini. Pertemuannya dengan Miranda sangat membuatnya terkejut, tapi itu juga salah satu kesalahannya tidak mencari informasi lebih lanjut mengenai perusahaan ini. Seharusnya ketika dia melihat logo di kartu nama Adi Perdana yang ditunjukan kepadanya, dia bisa mengingat jelas di mana dia melihatnya. Kenapa dia bisa lupa dengan nama keluarga ‘Santoso’, jika dia melihat kedua hal tersebut berbarengan pada karangan bunga ucapan yang berjajar di sepanjang gedung pernikahannya tujuh tahun yang lalu?

Danu melihat Miranda dalam balutan blazer kasual  bewarna hitam, tidak ada kerutan di wajahnya, tersamar dengan baik dalam balutan concealer. Sejak dahulu Miranda memang pintar berdandan, hampir tidak ada kenangan tentangnya dalam keadaan berantakan sama sekali. ‘Aku malu Dan, kalau ketemu orang lain tanpa terlihat cantik’ ucapnya kala itu, sejujurnya baik dengan make up ataupun tidak sama sekali, Miranda tetap menawan.

                “Sudah lama ya…Dan” kata-kata keluar dari mulut perempuan yang duduk di hadapannya, memutus tali kilasan masa lalu di alam bawah sadarnya

                “Ya, cukup lama” jawabnya singkat sembari mengaduk satu satchet gula ke dalam kopinya, “Bagaimana kabarmu?”

                “Baik” Miranda mengangkat sedikit bahunya  “Seperti yang kamu lihat. Seperti ini sekarang diriku. Kalau kamu?”

                Danu tersenyum getir, “Baik” jawabnya dan mulai menyeruput kopi pesanannya perlahan,”Bisnis baru?”

                “Iya” Miranda kali menatap Danu dengan seksama,”Aku mendengar apa yang terjadi pada karyawan Henry. Dia terbunuh di kota tempat tinggalmu, bukan?”

                “Ah, kamu tahu juga tentang itu”

                Miranda mengangguk,”Aku memang menyuruhnya mencari berbagai macam dekorasi untuk restoran yang akan dibuka lusa. Ternyata tidak kusangka, dia bakalan meminta bantuanmu”

                “Mungkin seharusnya aku tolak saja waktu itu”

                Miranda tersentak,”Apa jika kamu tahu ini pesanan dariku, kamu akan melakukanya?”

                “Entahlah” Danu memalingkan wajahnya ke arah jendela, dia dapat melihat lalu lalang kendaraan dari seberang jalan. Jakarta sudah banyak berubah, kali ini dia melihat sebuah proyek berada di tengah jalanan kota ini, mereka berencana membuat Light Rail Transit seperti yang selalu diberitakan oleh media. Lalu lalang karyawan perkantoran daerah sini mungkin yang selalu sama dari masa ke masa. “Aku juga tidak terlalu menanyakan detail pemesannya pada Mas Adi saat itu. Mungkin jika aku tolak dia masih hidup, dan tidak berakhir dengan cara seperti itu. Mungkin jika aku tolak, aku juga tidak akan datang kembali ke Jakarta” kali ini Danu menatap Miranda lagi “Banyak kemungkinan yang akan terjadi”

                “ Sampai kapan kamu di sini, Dan?” tanya Miranda kepadanya

                “Minggu depan pulang” jawabnya singkat

                “Lusa, jika kau tidak keberatan, apa kamu mau datang ke pembukaan restoranku?” Miranda bertanya dengan nada lirih, ada sedikit harapan dalam pertanyaan yang dia ajukan. Bagaimanapun Danu masih mempunyai jangkar yang kuat dalam dirinya, dan dia yakin Danu juga berpikir hal yang sama “Setidaknya, kamu bisa datang demi pertemanan kita, Dan?”

                Danu menghela nafasnya, “Akan aku usahakan. Aku harus pergi sekarang, ada tempat yang harus aku kunjungi” Danu berdiri diikuti Miranda yang bergegas mengambil tas tangan miliknya, namun Danu menghentikan wanita tersebut dengan tangannya “Biar aku yang bayar, Mir. Sampai jumpa”

Miranda Santoso hanya bisa terdiam memandangi punggung Danu yang beranjak pergi, matanya mengikuti dengan sedih langkah demi langkah pria tersebut berlalu dari hadapannya. Dia menggigit bibirnya perlahan, kemudian duduk kembali di atas sofa cafĂ© yang nyaman.  


Senin, 28 Maret 2016

Bab 4 - 2

Prabu tidak membantah, maupun mengiyakan ucapan atasannya. Jika atasannya mengatakan ada kejanggalan di TKP, pastilah ada alasannya, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan, yang mungkin sifatnya retoris belaka, “Maksud, Bapak?”

Bripka Arifin menunjuk arah pintu, “Pintu tidak didobrak paksa, tidak ada tanda-tanda pengrusakan, artinya korban mengenal pelaku. Bisa jadi korban sendiri yang mengajaknya masuk, atau mereka sudah janji bertemu. Lalu..” kali ini Bripka Arifin mengasosiasikan dirinya dengan korban untuk mereka kejadian yang menurut dia terjadi pada malam pembunuhan, “Jika kamu menerima tamu, apa yang kamu lakukan?”

                “Saya akan membuka pintunya, melihat siapa yang datang, lalu mempersilahkannya masuk”

                “Betul sekali. Pasti ketika dia melihat tamu yang datang, dia akan menyuruhnya masuk, tepat di sini…” Bripka Arifin kini berada di sisi tempat korban ditemukan tewas, telunjuknya digerakan tanpa henti “Di sini dia mungkin berbincang dengan pelaku selama beberapa saat. Kemungkinan dia berbalik, di saat itu pelaku menjeratnya dengan tali. Lihat ini” Bripka Arifin berjongkok pada sisi tempat tidur dari kayu “kamu lihat itu?”

Prabu memincingkan matanya, berusaha mendapatkan imej yang ditunjuk oleh atasannya, samar-samar ada sedikit bagian yang mengelupas seperti garis tipis. Panjangnya tidak rata, tapi ini goresan yang dilakukan dengan sekuat tenaga. Kayu tempat tidur ini tidak mudah tergurat kecuali ada tekanan pada lapisannya  “Ada..sedikit guratan. Bekas cakaran”

                “Mungkin itu dari cakaran kuku korban yang berusaha melepaskan diri.” Bripka Arifin berdiri lalu menepuk-nepuk bagian belakang celananya “ Karena korban berontak, pelaku lalu menusuknya dengan cepat dengan maksud melumpuhkan dia” paparnya sambil mengusap ujung hidungnya “Luka cekik biasanya didapat akibat dendam bersifat pribadi. Pelaku pasti sudah lama menyimpan dendam pada korban. Motifnya harus sangat kuat, sehingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidup korban dan menikmati perbuatannya sampai nyawa korban melayang.”

                “Apakah pelaku kalah tenaga dari korban, sehingga perlu menusuknya?”

                “Kemungkinan itu ada. Lalu bagaimana dengan hasil forensik mengenai waktu kematian korban?”

                “Dari kekakuan tubuhnya, korban diperkirakan telah meniggal dua jam sebelum ditemukan. Artinya, sekitar pukul sepuluh malam sebelum penjaga penginapan menemukannya”

Bripka Arifin mengangguk, jam sepuluh malam. Namun, Sofyan sendiri mengatakan tidak ada yang berkunjung malam itu kecuali paangan selingkuh yang tidak sengaja terlibat dalam kasus ini. Pergantian shift dia dengan saudaranya pada pukul delapan, apakah mungkin ada jeda di saat itu dan digunakan pelaku untuk menyusup masuk? “Prabu, kita perlu meminta keterangan dari penjaga penginapan satunya lagi. Rukmini. Jika pintu masuk penginapan ini hanya ada satu, maka kita perlu mendapatkan keterangannya apakah dia yakin tidak melihat seseorang menyelinap ketika pergantian waktu jaga?”

                “Ibu Rukmini saat ini ada di penginapan, Pak. Apa kita akan meminta kesaksiannya sekarang?”

                “Ya, segera kita minta kesaksiannya”

Mereka menuruni tangga dan menuju meja penerima tamu. Tampak wanita paruh baya, usianya sekitar tiga puluhan, dia mengenakan kemeja cokelat bermotif bunga dipadukan dengan rok terusan bewarna cokelat muda. Sesuai dengan kemeja yang dia pakai saat itu. Setelah Prabu mengatakan padanya bahwa mereka perlu meminta keterangan darinya, raut wajahnya berubah. Dia mengiikuti kedua polisi itu duduk di sofa tua yang ada di dekat meja penerima tamu.

                “Ibu Rukmini,” papar Bripka Arifin hati-hati, “Apakah betul anda bertukar waktu jaga dengan Sofyan pada pukul delapan malam?”

                “Iya, Pak” jawabnya pelan

                “Saat korban ditemukan tewas, apakah anda juga berganti jaga di waktu yang sama?”

                “Hampir setiap hari seperti itu, Pak. Kadang-kadang saya menemaninya sampai jam sembilan malam, waktu Bapak Adi meninggal juga saya baru istirahat jam segitu”

                “Apakah tidak ada orang yang mencurigakan saat itu?”

                “Tidak ada, Pak. Saya pulang setelah suami saya menjemput dari tempat kerjanya.”

                “Dia tidak satu tempat dengan Ibu?”


                “Tidak, Pak. Suami saya jualan di Pasar, biasanya malam setelah dagangannya cukup laris banyak, dia tutup tokonya jam delapan, lalu jemput saya. Jujur Pak, setelah kasus ini saya bingung penginapan saya akan bagaimana kelanjutannya” kali ini Rukmini hanya bisa berkata miris, kasus pembunuhan di penginapannya akan membuat tempat ini sulit mendapatkan tamu “Besok malam saya akan adakan pengajian di sini, supaya nggak ada kejadian aneh lagi di sini” ujarnya lirih seraya mengakhiri sesi introgasi padanya

Sabtu, 26 Maret 2016

Bab 4

Bab 4

Bripka Arifin terdiam di tengah ruangan tempat korban Adi Perdana tewas, dia kembali datang ke TKP – Tempat Kejadian Perkara- karena ada beberapa hal yang ingin dia pastikan.  Masih sama seperti mereka tinggalkan. Garis polisi masih melintang, tidak mengizinkan siapa pun selain yang berkepentingan masuk ke dalamnya, gambar kapur penanda tubuh korban ditemukan juga masih ada. Kipas angin, meja, vas bunga, masih lengkap. Tadi pagi dia baru saja menerima beberapa hasil dari tim forensik, ada yang meleset dari perkiraan awalnya. Korban tidak mati karena kehabisan darah, namun ada bekas jeratan di lehernya. Jeratan tipis, seperti menggunakan benang halus, dia perkirakan itu seperti alat pancing. Ini menarik, untuk apa pelaku menusuk korban? Yang paling penting senjata pembunuhnya belum ditemukan, atau ini hanya kamuflase untuk mengecoh polisi?

Awalnya dia menaruh kecurigaan pada pasangan tidak sah yang terpergok di saat yang bersamaan. Tidak ada yang namanya kebetulan, itu adalah asumsi dia. Namun, setelah penyidikan panjang dan melelahkan malam itu, mereka berdua lepas dari tuduhan pembunuhan tingkat satu. Ruangan penyidik riuh saat anak buahnya mengintrograsi mereka, ketika kedua keluarga pasangan itu datang ke kantor mereka saling adu mulut, bukannya mendapatkan informasi penting, yang ada menambah beban pekerjaan satuannya. Mereka harus melerai pasangan selingkuh itu dari cakaran dan juga adu jotos pasangan resminya masing-masing.

                “Lapor, pak!”anak buahnya datang bersama dengan penjaga penginapan yang pernah dia tanyai sebelumnya, Sofyan “saya sudah memanggil saksi seperti yang Bapak perintahkan!”

                “Ng, anu..ada apa ya, Pak?” Sofyan bertanya padanya, nadanya terdengar takut

                “Selain Mas ASofyan, siapa lagi yang  menjadi penjaga di penginapan ini?”

                “Kalau pagi ada kakak perempuan saya, Rukmini. Saya biasanya bertukar jaga jam delapan malam, soalnya saya harus kerja di bengkel motor dekat terminal bayangan situ, Pak”

                “Saat itu, selain korban, apakah ada tamu yang menginap?”

Sofyan berusaha mengingat sesuatu, “Ada, Pak” jawabnya “Tapi, jam sebelas siang sudah keluar dari penginapan. Jadi ya.. hanya Bapak Adi yang menginap saat itu”

                “Ada pengunjung yang datang menemuinya?”

                “Tidak ada, Pak. Pak Adi datang dua hari sebelum dia meninggal, biasanya selalu keluar siang hari dan baru kembali menjelang maghrib. Saya pernah tanya, katanya ada bisnis di sini. Jadi tidak ada tamu yang datang berkunjung”

                “Pintu masuk ke penginapan ini, apakah hanya ada satu?”

                “I..iya, Pak. Dari ruangan depan saja.”

Bripka Arifin melihat sejenak keluar jendela, lalu membuka pintu kamar dan melihat sekelilingnya. Ada tembok setinggi satu meter di samping kiri penginapan itu, tidak bagus karena mengarah ke jalan raya. Mudah saja menaiki tembok tersebut karena tingginya hanya satu meter. Ada beberapa gundukan batu, dan juga pohon jambu melintang ke tepian trotoar, keduanya bisa saja digunakan oleh pelaku untuk melarikan diri. “Prabu, minta anjing pelacak, dan juga tim forensik memeriksa ulang bagian kiri bangunan ini. Sisir sepanjang trotoar dan jalan ini. Siapa tahu kita menemukan petunjuk yang terlewat malam itu”

                “Baik, Pak!”

                “Mas Sofyan, nanti kami akan meminta bantuan anda kembali. Sekarang anda boleh pergi” ucap BRipka Arifin seraya masuk kembali ke dalam kamar. Sambil berkacak pinggang dia masih memandangi suasana kamar. Udara masih panas, musim kemarau panjang dan juga letak geografis dekat laut menjadikan kota ini selalu bersuhu tinggi

                “Terimakasih, Pak” Sofyan buru-buru keluar ruangan setelah dia diizinkan pergi, meninggalkan kedua petugas kepolisian itu di tengah keheningan.


                Jeda panjang itu kemudian dipecahkan oleh ucapan Bripka Arifin “Ini aneh sekali Prabu, aneh sekali” 

Kamis, 24 Maret 2016

Bab 3 -3

                “Siang, Pak Danu! Saya Daniel” seorang pria bertubuh agak gempal  datang menuruni tangga dengan terpogoh-pogoh, rambutnya mengkilap, bukan dengan keringat, melainkan gel rambut mahal yang nampak jelas dia usapkan terlalu banyak. Danu dapat menciumnya dari radius sedekat ini ketika dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Sudah lama menunggu, Pak?” timpanya lagi, namun belum sempat Danu menjawab pertanyaannya, Daniel sudah memotongnya kembali “Oh, ini pesananannya? Hmm….” Daniel tampak sedang berpikir

                “Iya, ini pesanannya. Perlu saya letakan di mana?”

                “Ini semestinya dikirim ke cabang baru, namun sementara biar nanti saya minta orang menyimpannya di warehouse. Oh, untuk proses pembayaran nanti mohon ikut dulu saya ya, Pak. Sebentar…” Daniel berbincang sejenak dengan resepsionist agar pahatan Guan Yu ini dapat disimpan sejenak di tampatnya, sampai dia memanggil pesuruh untuk mengangkutnya kembali, setelah selesai dia meminta Danu agar mengikutinya ke kantornya, di lantai dua  “Mari, Pak”

Selama menaiki tangga, Daniel banyak bercerita, kebanyakan tentang dirinya “Sebelumnya saya anak buah Pak Adi. Sayang juga dia meninggal di usia masih muda” ujarnya

                “Yah, saya juga tidak mengira. Takdir Tuhan”

                “Padahal dia orang yang sangat menyenangkan, yah, Pak Adi memang sedikit cerewet seperti marketing pada umumnya, tapi dia orang yang enak diajak bekerja sama”

                “Ah, saya mengerti itu “ timpal Danu sambil melihat sekelilingnya, dia melihat sebuah ruangan besar dengan banyak orang duduk saling berhadapan dalam tiga baris utama, tidak hanya itu ada beberapa ruangan yang bertuliskan divisi-divis di perusahaan ini. Beberapa membaca kertas-kertas dokumen, ada yang sedang berbicara dalam sambungan telepon –seperti saling bersahutan satu sama lain- , namun ada pula yang hilir mudik. Benar-benar kantor yang sangat ramai, penuh dengan energi, ini sangat bertolak belakang dengan dirinya yang selalu terikat dnegan ruangan studio pahatnya. Sendiri, hanya dia dan peralatan seninya.  Dari ruangan bertuliskan ‘Direktur’ baru saja keluar wanita berkacamata dan berbaju blazer merah maroon dengan wajah yang sukar diartikan, apakah itu lega atau kesal, lalu dia duduk kembali di mejanya. Sekretaris Direktur sepertinya.

Ruangan Daniel, yaitu divisi Marketing Plan, hanya berisikan tiga meja kerja, dengan papan putih bertuliskan rancangan-rancangan kerja bulanan, penuh catatan kecil bewarna warni ditempel tidak beraturan. Di dinding yang terbuat dari papan duplek dia melihat aneka berbagai macam foto kegiatan perusahaan. Ada beberapa foto Adi Perdana di sana, lalu dekat dengan bekas mejanya ada setumpuk pigura yang diletakan di karton bekas minuman plastik.

                “Ah, itu kepunyaan Pak Adi. Keluarganya belum ada yang mengambilnya jadi kami letakan di sana” Daniel yang menyadari Danu yang sedang memandangi seksama ruangan kerjanya menjelaskan dengan singkat, “Beberapa di antaranya hanya foto Pak Adi sedang memancing. Dia gemar sekali memancing. Nah, Pak Danu, silahkan duduk. Ada beberapa dokumen pencairan dana yang harus ditandatangani oleh Bapak”

Danu melihat rincian dokumen yang diserahkan kepadanya, membacanya sekilas, memastikan jumlah nilainya sesuai lalu mebubuhkan tanda tangannya.

                “Jumlahnya sesuai, Pak?” tanya Daniel padanya

                Danu menggangguk, “Ya, semua pas.”

                “Berapa lama Pak Danu ada di Jakarta? Saya berencana mengundang Bapak ke peresmian kantor cabang yang baru”

                “Tidak lama, seminggu mungkin” jawab Danu “Sebenarnya, kantor cabang baru ini ada di mana ya?”

                “Oh, ini untuk restoran Golden Lotus, salah satu anak usaha dari perusahaan kami. Di daerah Alam Sutra”

                “Perusahaan ini merambah sektor kuliner juga rupanya. Restoran kuliner dengan masakan khas oriental jika saya menebaknya?”

                “Ya, Anda benar. Lebih tepatnya jika istri direktur yang mengelolanya, tapi sampai sekarang apa yang dia jalankan tidak pernah mengecewakan bagi komisaris perusahaan ini, walau sedikit bernuansakan nepotism, tapi bagaimana lagi, perusahaan ini awalanya adalah perusahaan keluarga”

                “Saya mengerti” Danu tersenyum mendengarnya “Ini, Pak Daniel sudah saya tandatangani” dokumen pembayaran kini beralih tangan ke Daniel. Mereka berdua menoleh ketika ada suara ketukan kecil di ruangan Daniel, dari wanita berblazer merah marun tadi

                “Pak Daniel, Ibu datang. Ada perlu dengan Bapak”

                “Wah, pas sekali. Baru saja pesanan Dia datang, terimakasih Mbak Dina, Saya akan ke sana” wanita cantik bernama Dina itu kemudian berlalu, “Iya, Pak Danu. Sudah selesai, dana akan dicairkan ke rekening Bapak paling lambat tujuh hari kerja” Daniel merapikan dokumen tersebut, sambil sesekali melirik kea rah pintu. Mereka berdua mendengar suara langkah kaki wanita dengan hak sepatu tinggi menuju ke ruangan ini.

                “Terimakasih, Pak Daniel. Semoga kita bisa bekerjasama kembalii” ucap Danu seraya merapikan kembali tas yang berisikan beberapa potong pakaian di dalamnya, jika langkah kaki tersebut menuju kemari sepertinya akan ada tamu yang menemuinya. Danu beranjak menuju pintu hendak keluar, sebelum pintu tersebut terbuka dan suara wanita memanggil namanya, tidak melengking, tidak lembut, masih ada nada memerintah namun sangat enak didengar

                “Daniel!”

                “Ah, Iya Bu!” Daniel bergegas menyambut wanita tersebut, dan membukakan pintunya lebih lebar agar dia dapat masuk dengan mudah.

                Wangi parfumnya lembut, Danu mengenali wangi ini seperti dia mengenali setiap jengkal bagian tubuhnya. Sedikit ingatan berkelebat di dalam benaknya , seperti film yang dimundurkan dengan sangat cepat. Rambut ikal sepanjang bahunya berjuntai lembut di pundaknya, kulit tangannya yang bersih, tahi lalat di bibirnya masih sama, bulu matanya yang lentik, dan mata sayunya menjadi satu paket yang menggoda. Dia menatap wanita yang memasuki  ruangan tempatnya berada, dan sebuah kata meluncur begitu saja dari mulutnya


                “Miranda!” 

Rabu, 23 Maret 2016

Bab 3 - 2

Dengan perlahan Danu menurunkan pahatan Guan Yu yang dia kemas dalam kotak kayu dari dalam taksi yang dia tumpangi dibantu oleh supir, pahatan ini tidak ringan, apalagi dia menggunakan kayu jati sebagai bahan dasarnya. Sudah hampir seminggu ini tenaganya bak terkuras hingga ke titik terendah, mengangkat beban seberat ini benar-benar melelahkannya, beruntung dia masih bisa mengejar penerbangan ke Jakarta subuh tadi. Benar seperti yang dikatakan Mbok Nem, dia memaksakan diri menyelesaikan pahatan ini dalam waktu singkat, bukannya tanpa alasan, pahatan ini bagaikan hutang pekerjaan apalagi pemesannya sudah tidak ada. Danu lebih baik menyelesaikan pahatan ini secepat mungkin – dan untungnya proses finishing terasa tidak ada hambatan – daripada harus dihantui oleh pesanan yang belum rampung.

Danu menatap bangunan di hadapannya, sebuah kantor yang terdiri dari tiga lantai bercatkan warna terracotta, beberapa catnya mengelupas di bagian sisi temboknya, mungkin karena faktor cuaca. Di depan gerbang dia melihat sebuah papan nama bertuliskan PT GLOBAL JAYA, lengkap dengan detail logonya.Lokasinya mudah dicari, apalagi dia juga pernah tinggal di kota ini cukup lama, walaupun ketika mencari lokasinya dia harus memutar jauh di daerah Sarinah karena supir taksi yang ditumpanginya salah belok. Setelah mengucapkan terimakasih, dan mengeluarkan beberapa lembar rupiah untuk membayar ongkos perjalanannya, Danu menyampirkan tasnya dan segera  menuju pos satpam

                “Siang, Pak! Ada yang bisa saya bantu?” tanya  Satpam berkepala cepak itu padanya.

                “Saya mau bertemu Bapak Daniel. Saya mengantarkan pesanannya. Maksudnya pesanan Almarhum Bapak Adi sebelum dia meninggal”

                “Oh, tunggu sebentar” Satpam itu masuk ke dalam posnya, dna tidak lama kemudian keluar sembari membawa tanda pengenal bertuliskan ‘Guest’ dan menyerahkannya kepada Danu “Silahkan Bapak masuk ke dalam, di sana ada front office nanti Bapak isi buku tamu, dan dia akan mmebantu Bapak bertemu Pak Daniel”

                “Terimakasih” Danu berkata seraya mengenakan kartu tanda pengenalnya di saku jaketnya, udara Jakrta memang panas, tapi jaket ini selalu setia menemani dia ketika berpergian “kalau boleh, apakah ada yang bisa membantu saya membawa ini, Pak?” Danu kemudian menunjuk boks kayu yang ada di samping kakinya

                “Isinya?” kali ini Satpam dengan sedikit curiga menatap boks kayu tersebut, dengan hati-hati dia menyentuhnya

                “Pahatan” jawab Danu dengan tenang,  semenjak serangan terror beberapa bulan lalu, penjagaan di Jakarta semakin ketat rupanya

                Satpam itu menggangguk, lalu dia memanggil seornag laki-laki kecil dengan baju biru muda bertulisakan Office Boy agar membantu Danu. “Wan, hoi Riswan! Sini! Bantu” teriaknya sambil membuat gerakan mendorong dengan tangannya. Riswan sang pesuruh kantor itu dengan sigap pergi ke belakang bangunan, tidak lama sebuah trolley barang sudah ada dan mengangkut Guan Yu dari permukaan tanah

                “Silahkan lewat sini Pak”  ucap Riswan dengan logat Betawinya yang bercampur aksen Sunda pada Danu. Seelah menaiki beberapa undakan, Danu hendak membukakan pintu agar Riswan dapat dengan mudah memasuki kantor, tapi upaya itu tidak jadi dia lakukan karena pintu utama PT Global Jaya sudah dibukakan oleh seorang gadis dengan mata memerah yang kemudian berlalu.


                “Itu Harshita, anak Pak Direktur” bisik Riswan pada Danu, “Sudah biasa, Pak” ujarnya lagi, “Nah, di sebelah sini” Riswan meletakan trolleynya di samping meja penerima tamu, dan berkata pada resepsionistnya bahwa Danu hendak bertemu Pak Daniel setelah itu dia pergi kembali melakukan pekerjaan utamanya. Setelah diberikan penjelasan singkat, dan menitipkan kartu tanda penduduknya di meja penerima tamu, Danu kemudian duduk di ruang tunggu. Semoga tidak lama, masih ada tempat yang akan dia kunjungi setelah ini selain makam Ibundanya.

Selasa, 22 Maret 2016

Belum Ada Judul: Bab 3

Bab 3

Henry Santoso membolak balik semua laporan yang dia terima, ada setumpuk dokumen yang harus dia periksa, belum lagi sekretarisnya baru saja membawakan perjanjian jual beli dengan supplier perdagangan dari Korea Selatan. Kacamata baca yang dia kenakan sedikit melorot seiring pandangannya menatap angka-angka yang tertera di dalam dokumen, beberapa komoditi mengalami kenaikan harga, sedangkan penjualan perusahaannya stagnan dalam triwulan pertama. Artinya ada beberapa hal yang akan dia efisiensikan, kantor cabang baru yang akan dibuka dalam hitungan hari ke depan menjadi salah satu harapannya mendongkrak keuntungan bagi perusahaanya. Tidak mudah untuk terus bertahan dalam persaingan dunia ritel, banyaknya saingan usaha sejenis membuat perusahaannya harus terus menerus melakukan hal yang baru setiap bulannya guna menarik konsumen. Sebenarnya itu pekerjaan Divisi Marketing, dia membayar mahal mereka untuk memikirkan strategi pengembangan dan promosi bisnis perusahaannya, tapi kabar kematian kepala divisi Adi Perdana membuatnya runyam.

Dua hari setelah kematiannnya, dia terus dihubungi oleh pihak berwajib sekedar dimintai keterangan. “Apakah Bapak Adi benar melakukan kunjungan ke luar kota?” tentunya bagian personalia lebih mengetahui hal itu, dan dia hanya menjawab sebatas informasi yang dia peroleh dari para bawahannya. Sejujurnya dia tidak selalu tahu apa saja kegiatan mereka, toh sudah ada bagian yang mengurusinya, yang penting kinerja dan pendapatan perusahaan yang baru dia warisi lima tahun ini selalu baik.  Istrinya selalu bersikukuh agar membuka cabang di kawasan perniagaan baru dekat Alam Sutra, “Ada mall besar baru di sana, Pih. Prestise banget. Kita harus buka cabang di sana” dan dia tidak akan berhenti meminta hingga rengekannya dikabulkan. Dia hapal betul bagaimana sifat wanita itu. Setelah lobi panjang, negoisasi harga, hingga perencanaan detail bangunan, akhirnya dia meneken kontrak dengan pihak pengelola, namun kali ini dia membiarkan istrinya mengelola salah satu cabang perusahaannya di bidang kuliner. Walaupun istrinya tipe wanita yang manja, wanita itu punya insting bisnis yang bagus, lebih bagus dari dirinya. Dia pula yang membantunya meraih posisi aman sebagai direksi PT Global Jaya. Cantik tapi menakutkan, namun disitulah daya tariknya.

Bunyi intercom telepon menyela kesibukan tangan Henry, dengan sigap dia meraih telepon di atas mejanya, “Ya, ada apa, Dina?!” jawabnya pendek, lebih cenderung terburu-buru.

“Maaf, Pak. Anak anda ada di luar ingin bertemu, saya sudah bilang anda tidak bisa diganggu” jawab sekretarisnya, dengan sedikit ragu Dina melanjutkan pertanyaannya lagi, “Apa saya perlu menyuruhnya agar kembali lagi nanti?” dia tahu jika bosnya tidak dalam suasana hati yang baik, dengan sedikit keteguhan hati dia sudah siap jika semprotan omelan akan dia terima siang itu.
Terdengar suara Henry yang menghela nafas, “Suruh masuk saja” mungkin karena sederet pekerjaan yang belum selesai dan keletihan yang menumpuk dia butuh sedikit istirahat, walaupun kedatangan Harshita, anaknya belum tentu akan menenangkan pikiran dia.

Pelan, pintu ruangannya dibuka. Harshita masuk dengan langkah gontai, rambut panjangnya dia biarkan terurai, tote bag putih gading yang dia kenakan langsung dia lemparkan ke arah sofa di ruangan ayahnya, raut wajahnya kusut, sekusut kain sofa yang kini dia duduki. Henry memperhatikan tingkah anak gadisnya, “Kenapa lagi kamu?” akhirnya dia melontarkan pertanyaan yang sering dia tanyakan untuk memecah keheningan. Jawabannya sudah dapat diprediksi olehnya, dia hanya sekedar basa basi.

Tidak ada jawaban. Harshita mengacuhkan pertanyaan ayahnya, jemarinya sibuk memainkan ponsel pintar yang dia bawa dengan wajah ditekuk. “Jika tidak ada urusan, pulang sekarang juga. Kantor papa bukan tempat anak manja berkeluh kesah” kesabaran Henry sedang tidak bisa ditawar saat ini, tidak ada waktu untuk meladeni anak gadisnya yang merajuk. Kembali dia kenakan kacamatanya, dan mulai menghitung angka-angka dan mengetiknya kembali di komputer kerjanya.

Harshita merengut, dia sadar tidak ada gunanya membuat ayahnya kesal saat ini, “Biasa” jawabnya lirih tanpa memalingkan wajahnya dari ponsel pintarnya.

Henry menghentikan kembali pekerjaannya, “Ibumu lagi?”

                “Dia bukan Ibuku, Pah” dengus Harshita dengan marah

                “Sudah berkali-kali papa katakan, jika hanya ribut urusan rumah tidak usah kamu bawa ke sini.”

                “ Kenapa Sita tidak boleh ikut serta dalam perencanaan usaha cabang yang baru, Pa? Apa karena Sita masih muda?” suara Harshita meninggi

                “ Ini lagi! Kita sudah membahasnya di rumah, Sita”

Harshita bangkit dari sofa cokelat yang nyaman, sambil melipat tangannya dia mencoba memberikan penjelasan yang masuk akal kepada ayahnya, “Pah, umurku sudah dua puluh dua, sudah banyak belajar, bahkan tinggal setahun lagi Sita lulus program magister. Semua untuk membantu Papa, tapi kenapa Sita tidak diberikan kesempatan untuk itu?”

                “Jika kamu ingin belajar, belajar dari Ibumu. Lebih baik, sekarang juga kamu pulang ke rumah” tukas Henry tanpa memalingkan wajahnya, dia tidak menyadari ekspressi putrinya yang kini geram.

                “Pah, ini tidak adil. Berikan Sita satu kesempatan saja!” alih-alih membujuk, Harshita mengeraskan suaranya. Dia tahu di luar ruangan ini semua orang dapat mendengar apa yang dia katakan, tapi dia tidak peduli. “Sudah cukup Sita melihat, ini juga perusahaan Kakek, Sita berhak ikut andil dalam pengembangannya”

                Tidak tahan dengan sikap putrinya yang semakin melewati batas, Henry menggebrak meja kerjanya, “Cukup!” hardiknya kini,  dengan tergesa-gesa dia mendekati putrinya kemudian berbisik tepat dihadapannya dengan intonasi yang tegas “Jangan lupa, berkat dia, Papa berhasil seperti ini. Berkat wanita yang menjadi ibumu sekarang, perusahaan kakekmu ini selamat! Camkan itu!” perkataan ini membuat putrinya terdiam dan tidak mampu menjawab. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun dengan segera Harshita mengusapnya, berusaha tidak terlihat lemah.

                “ Jika kamu sudah mengerti, lebih baik kamu sekarang kembali ke rumah”


Tanpa diminta dua kali, Harshita segera mengambil tasnya dan keluar ruangan itu dengan hati yang kesal. Dibantingnya pintu ruangan ayahnya, membuat seluruh karyawan di lantai itu terdiam. Setelah Harshita pergi, Henry Santoso keluar dan dengan segera memanggil sekretarisnya “Dina, kemari!” singkat, namun masih dipenuhi amarah. Dina, sekretaris kepercayaannya hanya bisa menelan ludahnya mendengar panggilan itu.

Kamis, 17 Maret 2016

Bab 2 ( part 2 - Hari ke 4)

Dengan pikiran menerawang, berusaha mengingat dan mereka tempat kejadian perkara di dalam kepalanya,  jemari Bripka Arifin mengetuk-ngetuk pelan permukaan meja kerjanya, dia selalu melakukan kebiasaan ini jika sedang berpikir keras. Di depannya terdapat dua surat kabar harian lokal, keduanya mempunyai headline yang nyaris sama ‘Pembunuhan Di Hotel’ satunya lagi malah lebih ekstrem ’Malam Berdarah di Hotel Melati : Polisi Belum Menemukan Titik Terang”. Orang awam mengira setelah mengumpulkan sidik jari mulai DNA, hingga pelaku dapat langsung ditemukan. Kenyataannya tidak semudah itu, segala bukti forensik diserahkan kepada bagian DVI untuk dianalisa, dan tidak seperti tayangan serial detektif di televisi yang  dapat terinci dalam waktu hitungan jam. Butuh waktu, dan bisa berhari-hari menemukan kecocokan DNA dengan nyaris dua ratus juta penduduk di negara ini.

Setelah meminta keterangan dari pemahat yang akan ditemui oleh korban, dia yakin  korban datang ke kota ini dalam rangka kunjungan bisnis, berkaitan dengan pahatan yang dipesan perusahaannya. Uang dan barang beharga korban hilang, apakah kasus ini murni perampokan disertai pembunuhan? Kesimpulan ini masih terlalu dangkal, apalagi  ada poin yang tidak sesuai dengan bukti di tempat kejadian. Dia berdiri menuju papan putih tempat dia menuliskan detail urutan kejadian, melihat rentetan waktu dengan seksama, konsentrasinya buyar ketika anak buahnya mendadak masuk ke dalam ruangan

                “Lapor! Maaf, Pak! Di penerima tamu ada Bapak Danuwirya datang. Dia bilang ingin menanyakan beberapa informasi.”

                “Danu, pemahat itu? Informasi?  Coba kita tanyakan apa yang ingin dia ketahui.” Bripka Arifin menutup pelan pintu dan keluar dari ruangannya.

Tidak lama, Danu mendapati dirinya tengah berbincang dengan Bripka Arifin di selasar kantor polisi yang tidak terlalu banyak orang berlalu lalang. Dia sengaja datang  menjelang makan siang, agar tidak terlalu ramai, dan urusannya cepat selesai.

                “Perusahaan – PT -  Global Jaya “ Bripka Arifin menyerahkan secarik kertas berisi nama perusahaan serta alamat kantor Adi Perdana bekerja , Danu menerimanya dengan hati-hati agar kertas tersebut tidak lecek saat dia pegang, dan memasukannya ke dalam lipatan dompet. “Terimakasih sebelumnya. Jadi..apa ada perkembangan terbaru, Pak?”

                “ Kami sedang menganalisa barang bukti, jika sudah mencukupi akan kami ungkap ke publik. Alamatnya di Jakarta, apa Anda akan datang ke sana?”  tanya Bripka Arifin padanya

                “Yah, saya akan menanyakan dulu kelanjutan pesanan korban.” Danu tertawa kecil “Masalah lembaran rupiah memang mendesak untuk ditanyakan. Saya harap mereka tidak membatalkannya. Terimakasih informasinya, saya permisi dulu kalau begitu ”

                “Ah, ya benar juga. Pasti harganya tidak murah. Semoga berhasil”

Danu berjalan pelan ke arah parkiran motor, tadi dia meninggalkan motor bebeknya di bawah pohon rindang, dari dulu dia bukan termasuk orang yang gemar berjalan-jalan di bawah terik matahari. Olehkarena itu memahat merupakan pekerjaan ideal baginya, berada di ruangan seharian, walau kadang dia hanya menggunakan pahat kuku selama satu jam saja, dan sisanya lebih banyak dia gunakan untuk membuat sketsa kasar. Mbok Nem selalu menggerutu apabila banyak kertas berserakan di halam rumah jika dia sudah larut dengan dunianya. Dia meronggoh dompetnya, sambil menunggu matahari tertutup awan, ada baiknya dia menelepon kantor Adi Perdana, toh hari ini dia cukup senggang karena janji bertemu dengannya batal sudah.

Dikeluarkannya kertas yang diberikan Bripka Arifin, Danu membaca nomor telepon yang tertera dalam goresan tinta hitam pekat hingga beberapa bagian tinta merembes ke balik kertas, sementara tangan kirinya menekan keypad ponsel pintar. Bripka Arifin, tidak seperti penampilannya yang terlihat tenang rupanya orang yang sangat berkomitemen tinggi. Suara nada sambung terdengar, Danu menunggu sembari menyandarkan badannya, membagi rasa lelah dengan tumpuan berat badannya. Setelah beberapa saat, suara manis membalas panggilan teleponnya dengan ramah

                “ PT Global Jaya, may I assist you?”  dari jawaban tersebut, Danu menduga ini adalah perusahan multinasional yang sering berhubungan dengan orang asing.

                “Ya, saya Danuwirya, saya pemahat yang diminta almarhum Adi Perdana.” Danu memikirkan kembali kalimat apa yang tepat ia gunakan untuk menanyakan maksudnya “begini, saya tahu Bapak Adi sudah meninggal, saya hanya ingin menanyakan kelanjutan pesanan yang pesan. Saya harus berbicara dengan siapa?”

                “Sebentar, Bapak. Akan saya beri nada sambung, harap menunggu”

                “Baik, saya tunggu” Danu menghela nafas kembali, untunglah tidak lama kemudian dia mendengar seseorang berbicara di seberang sambungan teleponnya. Seorang laki-laki, dengan suara yang meledak-ledak.

                “Selamat siang, Bapak Danu. Saya Daniel, pengganti almarhum Adi. Begini, Pak, kami tetap melanjutkannya, namun apakah bisa pesanan tersebut selesai sebelum akhir bulan ini? Karena ada persemian kantor cabang, dan kami membutuhkannya segera.”

Kabar itu yang sudah Danu tunggu sejak tadi, “Ya, tidak masalah. Pahatannya sudah hampir selesai, tinggal saya finishing. Harus saya antarkan ke mana?”

                “Ke alamat kantor kami, di Jakarta, Pak. Bapak sudah tahu alamatnya?”

                Danu melihat kembali catatannya, “Sudah. Saya akan menghubungi anda jika sudah siap dikirim. Terimakasih”


                “Baik, Pak Danu.  Sama-sama. Kami tunggu pesananya” dan sambungan telepon pun berakhir sampai di situ. Masalah  kelangsungan perut Danu sudah mendapatkan kepastian, kali ini dia harus konsentrasi dengan pahatan Guan Yu yang belum rampung. Danu menengadah ke arah langit, awan belum juga menutupi matahari, bahkan sama sekali tidak ada tanda-tanda mendung sedikitpun.  Dia pun menyerah dan mengambil helm full face bewarna hitam dengan tulisan ‘INK’ dan mengenakannya, setelah ini dia akan mampir ke toko langganannya untuk membeli polintur serta tiner.